KKN #DIPONDOKAJA

  • Pandemi tahun ini memang dahsyat impact-nya. Banyak lini yang tersendat dan terpaksa harus nenyesuaikan diri agar tetap eksis di era—meminjam istilah KH. Abd. A’la—kelaziman baru ini. Pun dengan KKN. Momen menyenangkan sebelum skripsi tersebut kini harus ikut aturan main baru. Kampus tak mau mengambil resiko meniadakan kegiatan ini. Di sisi lain, kampus juga tak bisa serta merta mengadakan KKN ‘seperti biasanya’ untuk saat ini. Jadilah untuk tahun ini, pelaksanaan KKN dilaksanakan dari rumah.
  •  
  • Sempat ditanya soal bagaimana teknis pelaksanaannya, beberapa mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) semester VII menjawabnya dengan gamblang bahwa KKN-DR (Dari Rumah) ini dibagi menjadi 2 kategori: Reguler dan Riset.
  •  
  • Terkait perbedaan antara KKN saat ini dan tahun lalu, mereka berseloroh: “Jika tahun lalu mahasiswa semester VII KKN-nya di desa orang, kami mahasiswa santri, mengikuti imbauan kampus untuk kuliah dari rumah a.k.a pondok. Ya kan pondok adalah rumah kami. Ya bedanya cuma itu, dulu di desa orang, sekarang di pondok sendiri. Taulah maksud kami, hehehe…”
  •  
  • Tentang proker yang diajukan, banyak dari mereka yang memiliki gagasan menarik. Salah satunya adalah pemberdayaan perpustakaan lembaga. Pemberdayaan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali perpustakaan yang ada namun tidak difungsikan secara maksimal. ‘Menghidupkan perpus yang mati suri’, adalah ungkapan yang diberikan oleh shohibul proker sendiri.
  •  
  • Salah satu cara untuk memberdayakan kembali perpustakaan yang telah mati suri adalah dengan pengadaan buku. Dengan adanya buku baru, banyak pihak akan terlibat lebih jauh, entah itu pengunjung yang ingin membaca buku (terutama yang baru) ataupun penjaga perpustakaan yang merasa terpanggil kembali karena adanya pengunjung tersebut. “Ya semua itu kan muasalnya dari buku” terang Affan Effendy, peserta KKN-DR.

“Namun dibalik semua keterbatasan itu, mereka tetap memilih untuk tetap ber-KKN. Ruang gerak serba terbatas itu tak mereka jadikan alasan untuk berpangku tangan dan pasrah pada keadaan tak pasti. Karena pengabdian tak memilih tempat, mereka memutuskan untuk mengabdi di pondok. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali KKN, ilmu dan barokah diperoleh.”

  • Kendala yang ditemukan di lapangan mungkin keterbatasan fasilitas dan minimnya ruang gerak. Selain itu, konsep baru KKN-DR ini juga masih terhitung asing bagi mereka. Maklumlah, image KKN sedari dulu berupa mengabdikan diri di desa orang selama kurang lebih sebulan, membuat proker jangka panjang, dan banyaknya ‘lahan’ untuk mereka kelola nanti. Sekarang, mereka dihadapkan pada keharusan KKN sambil di rumah, ruang gerak/lahan serba terbatas, serta proker yang juga harus menyesuaikan pada keterbatasan lahan ataupun ruang gerak tadi.
  •  
  • Namun dibalik semua keterbatasan itu, mereka tetap memilih untuk tetap ber-KKN. Ruang gerak serba terbatas itu tak mereka jadikan alasan untuk berpangku tangan dan pasrah pada keadaan tak pasti. Karena pengabdian tak memilih tempat, mereka memutuskan untuk mengabdi di pondok. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali KKN, ilmu dan barokah diperoleh.
  •  
  • Selamat datang kakak-kakak peserta KKN Dari Rumah (DR) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Semoga pengabdian yang kalian ‘kuliah kerja nyata’-i terhitung amal jariyah dan barokah. Selamat datang mahasiswa santri peserta KKN di pondok tercinta. Semoga segala keterbatasan ini menjadi pelipat ganda ganjaran anda kehadirat-Nya.
  •  
  • Amiin.
  •  
  •    ADRIE RIDHA MAULANA
  •    Konten Kreator 
KKN #dipondokaja