KEAMANAN DAN KETERTIBAN

KEAMANAN DAN KETERTIBAN

  • Keamanan dan Ketertiban (selanjutnya ditulis KAMTIB) merupakan salah satu elemen penting dalam kepengurusan PPA. Latee 1. Kepengurusan KAMTIB di PPA. Latee 1 pertama kali dibentuk pada tahun 1990-an. Pada masa kepemimpinan ustazhah Ma’shumah Siraj (2002-2003) kepengurusan ini hanya bernama pengurus Keamanan. Kemudian pada masa jabatan ustazhah Layyinah Sajjad (2003-2004) kepengurusan ini bernama Ketentraman dan Kedisiplinan. Baru pada periode 2008-2009 sampai sekarang, kepengurusan ini bernama Pengurus Keamanan dan Ketertiban.
  •  
  • Secara struktural, Kepengurusan ini terdiri dari beberapa anggota dan seorang koordinator sebagai pemandu terealisasinya program dan kegiatan KAMTIB. Mengenai bagian sekretaris, inteligen, hubungan masyarakat maupun pengembangan SDM (sumber daya manusia), ditangani secara bersama atau bersifat sukarela (freelance). Selain itu, pengurus KAMTIB ini membawahi semua pengurus keamanan blok PPA. Latee 1.
  •  
  • Secara fungsional, kepengurusan KAMTIB bertugas menjaga/mengamankan PPA. Latee 1 dari segala hal yang dapat mengganggu/menghambat kestabilan aktifitas pondok pesantren, sehingga tercipta kondisi yang aman. Untuk menertibkan beberapa sistem kepesantrenan, pengurus KAMTIB ini menetapkan serangkaian tata tertib yang wajib dipatuhi oleh seluruh santri PPA. Latee 1, tata tertib tersebut telah disepakati oleh seluruh jajaran pengurus kemudian disetujui oleh pengasuh. Selain itu kepengurusan ini juga berfungsi mengarahkan seluruh santri untuk berperilaku baik dan sopan sesuai aturan pesantren.
  •  
  • Secara nilai, kepengurusan KAMTIB ini lebih kepada hal membimbing santri untuk berbudi baik serta mengarahkan santri agar terbiasa hidup disiplin, sehingga menimbulkan pola hidup yang tersusun rapi, tertib, dan teratur. Dalam hal tersebut, pengurus KAMTIB menggunakan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan emosional, spiritual dan intelektual, tergantung pada kondisi psikis santri dengan berlandasan pada kaidah-kaidah psikologi.
  •  
UNDANG-UNDANG PESANTREN
  • Undang-Undang/Tata Tertib merupakan hal penting di pesantren, hal tersebut bertujuan untuk mengatur segala sikap maupun tingkah laku santri dalam sehari-harinya. Pada awalnya, undang-undang/tata tertib PPA. Latee 1 seluruhnya bersifat tidak tertulis. namun seiring perkembangan zaman, segala bentuk adminstrasi dan undang-undang pondok pesantren mulai diperbaiki dan dibuat secara tertulis. Hingga sampai saat ini, undang-undang PPA. Latee 1 ada yang bersifat tertulis dan ada yang tidak tertulis, semua undang-undang tersebut semata hanya untuk menata santri dalam bersikap dan bertingkah laku. Undang-undang tersebut bisa berubah tergantung dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Dalam hal merumuskan undang-undang ini, selain dari pengurus juga ada yang langsung dari pengasuh. Dalam sejarah, pada masa kepemimpinan ustazah Nur Imamah Fitriana periode 2018-2019, perumusan undang-undang pesantren dilaksanakan bersama jajaran dewan penasehat pengurus (para pengasuh muda). Sampai saat ini yang menjadi acuan undang-undang pondok pesantren adalah hasil dalam perumusan tersebut.
  •  
  • Dalam penerapannya, agar Undang-Undang pondok yang dirumuskan dapat diterapkan secara optimal pada seluruh santri, pengurus KAMTIB saat ini  menggunakan beberapa pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi psikis santri. Seperti penggunaan pendekatan intelektual (biasanya dengan ceramah pada malam jumat),  pendekatan emosional (biasanya menggunakan relaksasi dengan berpedoman pada kaidah-kaidah hypnoteraphy atau menggunakan cara saling curhat yang biasa dikenal: heart to heart), dan menggunakan pendekatan spiritual. Semua pendekatan tersebut dimaksudkan agar dapat masuk kedunia santri agar dapat lebih mudah mengontrol dan mengarahkan santri.
  •  
  • Kemudian mengenai sanksi pelanggaran ada dua model yang digunakan, sanksi fisik dan non fisik sesuai dengan jenis pelanggarannya. Hal tersebut dilakukan karena tidak semua pelanggaran santri bisa diatasi dengan sanksi fisik. Pemberian sanksi fisik sudah tidak menjamin memberikan efek jera pada santri yang melanggar, maka perlu untuk menerapkan sanksi yang bersifat non fisik.
  •  
ROLLING KAMAR
  • Rolling kamar  merupakan salah satu program KAMTIB setiap tahun. Waktu pelaksanaa dari program tersebut biasanya dilaksanakan pada awal periode. Program ini telah berjalan sejak masa kepemimpinannya ustadzah Hananah Al-Azmy (2006-2007) sampai sekarang. Kala itu,  program tersebut belum dicantumkan dalam susunan program tertulis KAMTIB. Baru pada tahun kepemimpinan Ustazhah Anifatus Sababah (2011-2012), program tersebut tercatat dalam program tertulis KAMTIB.
  •  
  • Pada awalnya, rolling kamar  dimaksudkan untuk merangsang kepekaan bersosial santri serta mengurangi dan membatasi perilaku santri yang kurang/belum baik. Sebuah upaya pengurus untuk mengurangi pengaruh kurang baik antar teman. Namun seiring perkembangannya, jumlah santri yang semakin meningkat setiap tahunnya menyebabkan program ini diminimalisir sesuai kebutuhan. Maka sejak tahun 2019, rolling kamar cukup dilakukan bagi sebagian kamar saja yang dirasa perlu untuk diubah.
  •  
IZIN PULANG
  • Setiap santri pasti mempunyai kepentingan yang menyebabkan ia harus pulang ke, baik sebab kepentingan pribadi, keluarga, sakit, atau karena libur pesantren. Untuk mengontrol dan mengawasi prosedur pulang santri, maka pengurus KAMTIB menetapkan beberapa hal yang harus dilaksanakan dan dipenuhi sebelum dan sesudah pulang. Terutama yang menjadi prioritas dari perizinan pulang ini adalah wali atau mahram yang menjemput, demi menghidari dari hal-hal yang tidak diinginkan maka pengurus KAMTIB mendata seluruh wali dan mahram santri yang dibuktikan dengan Kartu Keluarga (KK) dari masing-masing santri.
  •  
  • Perumusan prosedur pulang dan kembali santri ini sepenuhnya dirumuskan oleh pengurus KAMTIB, kemudian diajukan dalam forum rapat pengurus untuk dilanjutkan kepada pengasuh. Prosedur yang dirumuskan ini bisa saja berubah sewaktu-waktu, tergantung pada situasi dan kondisi yang tejadi di PPA. Latee 1. Berikut adalah prosedur dan kembali santri:
  • Prosedur izin pulang-kembali sebab sakit:
  • -Mendapat surat rekomendasi pulang dari pengurus Div. Kesehatan.
  • -Surat rekomendasi tersebut diajukan pada ketua pengurus, jika mendapat izin pulang, maka pengurus kamar diperbolehkan untuk menelfon keluarga yang santri bersangkutan.
  • -Wali santri menyetorkan kartu mahram sebagai bukti bahwa ia benar-benar menjadi wali, kemudian mentandatangani kolom wali santri pada kartu pulang santri. Bagi wali santri yang lupa membawa kartu mahram, pengurus KAMTIB menghaturkan kepada wali santri untuk langsung memohon izin kepada pengasuh.
  • -Meminta tanda tangan pada pengurus KAMTIB serta mengisi data pulang (bisa diwakili pengurus kamar).
  • -Ketika kembali, santri serta wali santri wajib mengisi kolom tanda tangan pada data pulang dan kembali santri sebagai bukti ia benar-benar kembali ke pesantren tepat waktu dan sesuai prosedur.
  • -Santri yang berhalangan kembali sebab belum sembuh, maka wali santri bisa langsung mengizinkan ulang kepada pengurus baik via telpon atau langsung ke kantor PPA. Latee 1.
  • -Prosedur izin pulang sebab kepentingan pribadi/keluarga
  • -Santri diperbolehkan pulang dengan kepentingan yang diperbolehkan dalam undang-undang yang telah ditetapkan PPA. Latee 1.
  • -Wali santri menyetorkan kartu mahram sebagai bukti bahwa ia benar-benar menjadi wali, kemudian mentandatangani kolom wali santri pada kartu pulang santri. Bagi wali santri yang lupa membawa kartu mahram, pengurus KAMTIB menghaturkan kepada wali santri untuk langsung memohon izin kepada pengasuh.
  • -Sowan kepada pengasuh (dhalem timur dan dhalem barat).
  • -Meminta tanda tangan pada pengurus KAMTIB dan mengisi data pulang, serta pulang dengan memakai kerudung dan bros almamater.
  • -Ketika kembali, santri wajib memakai kerudung almamater kemudian santri serta wali santri wajib mengisi kolom tanda tangan pada data pulang dan kembali santri sebagai bukti ia benar-benar kembali ke pesantren.
  • -Santri yang berhalangan untuk kembali sesuai waktu yang telah ditentukan, maka wali santri harus mengizinkan kembali pada pengurus dan pengasuh langsung. Kecuali bagi santri yang berdomisili di luar radius 25 km dari pesantren, dan berada dalam keadaan mendesak.
  •  
  • Prosedur pulang libur pesantren
  • -Santri harus melunasi seluruh kewajibannya kepada pesantren baik berbentuk finansial atau non finansial.
  • -Menyetorkan kartu pulang ke kantor pesantren.
  • -Wali santri menyetorkan kartu mahram sebagai bukti bahwa ia benar-benar menjadi wali, kemudian mentandatangani kolom wali santri pada kartu pulang santri. Bagi wali santri yang lupa membawa kartu mahram, bisa memperlihatkan kartu identitas lainnya seperti KTP.
  • -Sowan kepada pengasuh (dhalem timur dan dhalem barat), bersama-sama seluruh santri.
  • -Pulang dengan memakai kerudung dan bros almamater.
  • -Ketika kembali, santri wajib memakai kerudung almamater kemudian santri serta wali santri wajib mengisi kolom tanda tangan pada data pulang dan kembali santri sebagai bukti ia benar-benar kembali ke pesantren.
  • -Santri yang berhalangan untuk kembali sesuai waktu yang telah ditentukan, maka wali santri harus mengizinkan kembali pada pengurus dan pengasuh langsung. Kecuali bagi santri yang berdomisili di luar radius 25 km dari pesantren, dan berada dalam keadaan mendesak.