Madrasah Diniyah

MADRASAH DINIYAH

  • Sebagaimana di daerah Latee Putra, pembelajaran dan pendidikan berbasis agama menjadi program unggulan di Latee II Putri. Seluruh santri yang berdomisili diwajibkan mengenyam jenjang pendidikan madrasah diniyah meski tidak bersekolah formal atau sudah lulus dari sekolah formal. Saking ditekankannya madrasah diniyah, santri yang tidak bersekolah atau berkali-kali absen tanpa alasan (bolos) berkonsekuensi terkena drop out yang diinstruksikan langsung oleh pengasuh.
  •  
  • Didirikan pada 1996 M., jenjang madrasah diniyah di Latee II mengalami dinamika pengembangan yang cukup progresif sesuai tuntutan zaman. Dari jenjang Awwaliyah, pada pertengahan tahun 2002 didirikan jenjang Wustha sebagai lanjutannya. Pada tahun 2008 didirikan juga jenjang I’dadiyah sebagai respon bagi santri yang belum mampu masuk di jenjang Awwaliyah. Yang terakhir, pada 2012 didirikan kelas khusus yang disebut kelas Mumtaz untuk mewadahi santri pilihan dan mempunyai kemampuan baca kitab yang mumpuni. Kelas terakhir ini awalnya berorientasi pada pengkaderan dan pendelegasian yang dipersiapkan untuk berbagai ajang perlombaan kitab dan lainnya. Kelas khusus ini kemudian diubah menjadi jenjang kelas Ulya sebagai lanjutan dari kelas Wustha.
  •  
  • Durasi berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar di madrasah diniyah adalah dua jam dengan 2 materi setiap malamnya yang dimulai setelah hadiran maghrib sampai jam 20. 15.
  •  
  • Sedangkan sistem kenaikan kelas yang digunakan pada semua jenjang ditentukan nilai raport yang dihasilkan dari akumulasi nilai ujian tulis bagi Awwaliyah dan Wustha serta ujian lisan bagi Ulya. Begitu juga absensi siswa setiap kelas yang tidak diurut sesuai abjad, tetapi sesuai verifikasi nilai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Otomatis tiga nilai teratas per-semester akan menjadi bintang pada setiap kelas.
  •  
  • Untuk informasi lebih rinci berikut 4 jenjang tersebut:
  •  
I’dadiyah
  • Kelas i’dadiyah merupakan kelas yang paling dasar dari empat jenjang lainnya. Kelas ini semacam persiapan untuk masuk ke jenjang Awwaliyah yang dituntut harus bisa baca-tulis arab. Karena itu, mata pelajaran yang dipelajari di jenjang I’dadiyah berupa materi-materi dasar seperti menulis, membaca huruf arab dan fikih. Kelas I’dadiyah tahun ini terdiri dari empat kelas yang diperoleh dari hasil tes masuk bagi santri baru dan tes kelayakan naik kelas bagi santri lama.
  •  
Awwaliyah 
  • Pada jenjang ini ada sekitar enam kelas yang harus ditempuh, yaitu mulai kelas satu sampai kelas enam. Metode pengajaran yang diterapkan bebas sesuai  keinginan pengampu materi masing-masing, namun rata-rata memakai metode bandongan. Jumlah materi pada setiap kelas berbeda; kelas satu sampai kelas tiga 10 materi, kelas empat 9 materi, kelas lima 8 materi, dan kelas enam 7 materi dengan kitab yang berbeda pada materi yang sama dalam setiap kelasnya. Secara umum materi tersebut meliputi:
  • -Tauhid: Minahu as-Saniyah
  • -Akhlak: Ta’lim al-Muta’allim, Muraqi al-‘Ubudiyah
  • -Fikih: Fath-al-Qarib
  • -Tajwid:
  • -Hadits: Riyad as-Shalihin
  • -Imla’: (praktik)
  • -Tarikh: Nur al-Yaqin
  • -Sharraf: Kaylani
  • -Nahwu: ‘Imrithi
  • -Bahasa Arab: Muthala’ah al-Arabiyah
  •  
Wustha
  • Jenjang wustha memiliki tiga kelas, dari kelas satu sampai tiga dengan tujuh materi. Metode yang diterapkan adalah bandongan dan sedikit sorogan. Kitab-kitab yang dipelajari pada jenjang ini sedikit lebih sulit dibanding kelas-kelas Awwaliyah. Materi-materi tersebut meliputi:
  • -Hadits: Riyad as-Shalihin
  • -Akhlak: Hasyiyah ad-Dasuqi
  • -Tarikh: Nur al-Yaqin
  • -Fikih: Fath al-Mu’in
  • -Nahwu: Ibnu ‘Aqil
  • -Tafsir: Tafsir Jalalain
  • -Bahasa Arab: Ta’lim al-Lughah al-Arabiyah
  •  
Ulya
  • Jenjang Ulya memiliki tiga kelas, kelas satu sampai tiga. Sama halnya dengan Wustha, Ulya mempunya tujuh materi pelajaran. Sebagai  jenjang terakhir, Ulya memiliki tingkat kesulitan tersendiri dibanding jenjang lainnya karena metode yang diterapkan adalah sorogan pada setiap materi. Materi-materi tersebut berupa:
  • -Tafsir: Marah Labid
  • -Balaghah: Jauharul Maknun
  • -Fikih: Fath al-Mu’in
  • -Nahwu: Ibnu Aqil
  • -Akhlak: Kifayat al-Atqiya’
  • -Ushul Fiqh: Latha’if al-Isyarat
  • -Tarikh: Rahiq al-Makhtum
  •  
Tenaga Guru
  • Tenaga pengajar di madrasah diniyah Annuqayah Latee II terdiri dari pengasuh PPA. Latee II sendiri pengasuh di daerah Annuqayah secara umum, alumni senior maupun non alumni, serta santri senior baik yang sudah lulus atau belum dari madrasah diniyah dan masih bermukim di Latee II.
Haflah Nishfu as-Sanah dan Haflah al-Imtihan Madrasah Diniyah (HIMADAL II)
  • Haflah nishfu as-sanah adalah acara untuk merayakan purnanya semester satu sekaligus evaluasi yang diadakan setiap setengah periode serta ditandai dengan pembagian raport, ranking kelas, dan siswa teladan. Acara ini biasanya diadakan di halaman MA 1 Annuqayah Putri dengan diisi tausiyah dari pengasuh sebagai acara inti serta wajib dihadiri oleh seluruh santri.
  •  
  • Sementara itu, HIMADAL II merupakan puncak perayaan yang diadakan setelah semester dua pada setiap akhir periode sekaligus kenaikan kelas. Even ini disemarakkan dengan berbagai macam lomba yang bersifat evaluatif dan terikat dengan materi-materi Diniyah serta dilaksanakan jauh sebelum hari H tiba. Pada hari puncak, acara ini ditutup dengan pembagian hadiah, ranking, siswa teladan serta temu wali santri Pondok Pesantren Annuqayah Latee II yang diadakan di aula as-Syarqawi.

 

Pengajian KITAB Al-Quran dan Kitab

PENGAJIAN KITAB

  • Pengajian kitab merupakan program dan rutinitas mingguan yang diadakan di PPA. Latee II sesuai dengan tingkat sekolah formal. Artinya, dalam satu minggu ada tiga kali pengajian untuk per-tingkat MTs, MA, dan Mahasiswa serta satu kali pengajian kitab untuk seluruh tingkatan.
  •  
  • Bertempat di Mushalla PPA. Latee II, pengajian kitab dilaksanakan setiap selesai jama’ah asar. Selain itu, terdapat pengajian kitab yang dikhususkan untuk pengurus pesantren yang dilaksanakan setiap malam kamis setelah sekolah diniyah di salah satu ruang gedung MA. Berikut lebih rincinya:
  • – Sabtu: kitab Muraqi al-‘Ubudiyah dan Irsyadul ‘Ibad untuk siswa tingkat Aliyah
  • – Ahad: kitab Riyad as-Shalihin untuk tingkat Mahasiswa
  • – Rabu: kitab Ta’lim al-Muta’allim untuk siswa tingkat Tsanawiyah
  • – Kamis: kitab Nasha’ih al-‘Ibad untuk seluruh santri semua tingkatan
  • – Jum’at: kitab Ayyuha al-Walad untuk tingkat Mahasiswa
  • – Malam Kamis: kitab Siham al-Ishabah khusus untuk pengurus pesantren
  •  
  • Adapun yang mengasuh pengajian kitab ini adalah pengasuh di daerah Annuqayah terutama pengasuh PPA. Latee II sendiri dan alumni senior.
  •  

MENGAJI AL-QUR’AN

  • Pengasuh mewajibkan seluruh santri PPA. Latee II untuk mengaji al-Qur’an baik itu kepada pengasuh sendiri atau kepada pembimbing/ustadzah yang dites langsung dan direkomendasikan oleh pengasuh. Kegiatan ini merupakan program di bawah naungan pengurus MADAL II dan menjadi salah satu nilai yang diakumulasi dan tercantum di dalam rapor.
  •  
  • Dilaksanakan setiap setelah subuh dari pukul 04.45-06.00, santri diharuskan mengaji kepada pengasuh atau pembimbing yang ditentukan dengan mengisi daftar kehadiran atau membeli surat izin jika sedang berhalangan. Kemudian di setiap akhir bulan diadakan rapat evaluasi dengan para pembimbing untuk mendata anak bimbingnya yang sering atau sama sekali tidak mengaji al-Qur’an. Satu pembimbing biasanya memiliki anak bimbing paling sedikit 20 sampai 27 anak. Sedangkan santri yang mengaji ke pengasuh biasanya santri yang sudah fasih dan lulus tes dari ustadzah pembimbing sebelumnya serta duduk di kelas/ semester akhir.
  •  
  • Metode yang digunakan para pembingbing bermacam-macam. Ada yang menggunakan metode tilawati, iqra’ dan sorogan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan santri, tetapi yang paling banyak adalah menggunakan metode sorogan. Dengan begitu, efsiensi waktu dan pengetahuan santri dapat merata dan seimbang.

SKIA

SKIA

  • Syarat-syarat Kecakapan Ibadah Amaliyah (SKIA) adalah buku panduan yang dirumuskan oleh pengasuh bagi santri PPA. Latee II dalam beribadah sehari-hari, berideologi, dan berperilaku. SKIA memuat tetralogi dasar-dasar agama (ushul ad-din) berupa disiplin ilmu yang sifatnya yaumiyyah seperti tauhid, fikih, akhlak, dan tajwid. Dalam setiap disiplin ilmu tersebut, santri diharapkan memiliki pemahaman yang baik dan mendalam agar mampu mengimplementasikan dan mempraktikkannya dengan optimal dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan ini, dibuatlah kegiatan yang fokus pada pendalaman SKIA.
  •  
  • Tidak seperti di Latee Putra, format pelaksanaan SKIA di Latee II berbentuk bimbingan kepada pengurus pesantren yang sebelumnya telah mendapat bimbingan langsung dari guru ahli SKIA. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan satu kali dalam satu periode. Santri bimbingan dibagi berdasarkan kelas formal masing-masing. Pun juga ketentuan doa-doa yang dihafalkan disesuaikan dengan hierarki kelas formal, baik tingkat kesulitan maupun kuantitasnya. Kecuali bagi santri yang duduk di kelas akhir dan akan berhenti, maka disyaratkan menambah hafalan yaitu menghafal tahlil dan do’anya tanpa melihat tingkatan kelas.
  •  
  • Biasanya satu pembimbing sedikitnya mempunyai 10 sampai 17 santri bimbingan per-tingkatan. Teknisnya, santri dibimbing dengan tiga disiplin ilmu di atas (kecuali tajwid, karena sudah dipraktekkan langsung ketika mengaji al-Qur’an), kemudian dilanjutkan dengan penyetoran hafalan doa yang dibatasi dengan waktu/tanggal yang ditentukan.

KAMUS MINI BAHASA MADURA

KAMUS MINI BAHASA MADURA
  • Seiring perkembangan, situasi, dan kondisi santri saat ini, mengetahui bahasa Madura terutama bahasa Madura halus serta mempratikkannya dalam keseharian dirasa sangat penting dan dibutuhkan. Apalagi mayoritas santri PPA. Latee II berasal dari pulau Madura, objek tempat dan masyarakatnya juga Madura. Hal ini merupakan salah satu tata cara berperilaku sopan lebih-lebih ketika berada di tengah-tengah masyarakat. Kurang etis rasanya, ketika seorang santri berkomunikasi dengan orang lain dengan bahasa Madura yang kasar. Kedengarannya menjadi kurang sopan kepada orang lain.
  •  
  • Karena faktor di atas, maka PPA. Latee II memilki program hafalan kosakata bahasa Madura setiap minggu di bawah naungan pengurus divisi Pembinaan Akhlak dan Busana Islami (PABI). Kosakata bahasa Madura ini terkumpul dalam buku saku yang biasa disebut ‘kamus mini’ berisi sekumpulan kosakata bahasa Madura halus dari bahasa Madura kasar yang biasa digunakan sehari-hari. Setiap santri wajib memiliki kamus mini serta wajib menghafalnya. Setelah akhir bulan, munaqasyah serentak pada setiap kamar dilakukan untuk evaluasi hafalan.
  •  
  • Namun metode pengajaran kamus mini sifatnya tidak stagnan dari periode ke periode. Sewaktu-waktu metode yang dipakai pada periode ini tidak dipakai pada periode selanjutnya. Pada intinya, upaya penanaman dan pembiasaan berbahasa madura halus yang baik dan benar tetap dipertahankan dan diupayakan di PPA. Latee II.  

JAM BELAJAR

JAM BELAJAR

  • Alokasi waktu yang disediakan khusus belajar materi-materi formal maupun diniyah berdurasi satu jam yang dimulai pada pukul 20.15 sampai 21.15 setelah datang dari sekolah diniyah. Seluruh santri diwajibkan mengikuti kegiatan ini dengan setting dan ketentuan tempat yang telah ditentukan oleh pengurus Departemen Pendidikan dan Pengembangan Intelektual (DPPI).  Pada waktu ini santri tidak diperkenankan mebawa buku selain buku materi pelajaran. Format pelaksanaannya tidak belajar di kamar masing-masing, tetapi dikelompokkan sesuai dengan kelas, jurusan maupun tingakatan di kamar tertentu yang bukan kamarnya sendiri serta ditunjukkan lewat ‘denah’ jam belajar siswa.
  •  
  • Sedangkan mahasiswa tidak punya waktu khusus belajar, akan tetapi mahasiswa bertugas mendampingi siswa pada setiap kamar ketika jam belajar berlangsung. Mahasiswa harus siap jika ada siswa yang ingin bertanya perihal materi yang sedang tidak dimengerti. Absen siswa jam belajar juga dipegang oleh mahasiswa yang bertugas mendampingi dan mendata kehadirannya.

KURSUS INTENSIF

KURSUS INTENSIF

  • Pengurus PPA. Latee II, khususnya Departemen Pendidikan dan Pengembangan Intelektual mempunyai keinginan agar seluruh santri terutama santri yang bukan anggota 6 lembaga (warga blok) agar memiliki pengetahuan dan semangat belajar yang tidak kalah dari anggota 6 lembaga itu sendiri. Selain itu, hal ini untuk menarik minat santri agar masuk dan mendaftar ke salah satu 6 lembaga. Maka dibuatlah program kursus yang dinisiasi oleh pengurus DPPI bagi seluruh santri Latee II yang diisi  oleh anggota 4 dari 6 lembaga yang ada. 4 lembaga tersebut adalah Raudlah al-Lughah alArabiyah, Aphrodite Englis Club, Jam’iyyah Qiraatil Kutub, dan Jam’iyyah Tahfidzil Qur’an. Lembaga yang disebut terakhir lebih fokus pada mengajari ilmu tajwid dan makharijul huruf.
  •  
  • Kursus intensif dijadwal sebagai selingan jam belajar yang berarti jam pelaksanaannya sama seperti alokasi waktu jam belajar. Dilaksanakan setiap minggu 3 kali tepatnya pada malam ahad, malam selasa dan malam rabu. Sisanya berarti waktu jam belajar.
  •  
  • Format kursus intensif adalah dengan membagi 29 kamar santri (selain kamar 6 lembaga) menjadi empat kelompok sesuai dengan 4 lembaga yang akan mengisi kursus. 4 lembaga akan secara bergiliran mengajar di perputaran kelompok tersebut. 3 lembaga akan mendapat masing masing 8 kamar,1 lembaga dengan 5 kamar. Setiap satu kamar ada dua delegasi anggota 4 lembaga yang bertugas, dan begitu seterusnya. Untuk mengisi kursus, 4 lembaga mempunyai silabus khusus kursus yang ringan sebagai acuan pembahasan yang akan disampaikan.

RUMAH CERDAS MAHASISWA

RUMAH CERDAS MAHASISWA

  • Adalah salah satu program pengurus DPPI yang diadakan setiap hari kamis (hari libur mahasiswa INSTIKA) sekitar pukul 08.00 sampai selesai. Kegiatan ini diadakan ketika hari aktif kuliah dan dikhususkan bagi seluruh mahasiswa yang ada di Latee II. Dikemas dengan berbagai kegiatan edukatif seperti diskusi, pengajian kitab, bahtsul masa’il, nonton bersama (nobar) yang wajib diresensi dan sebagainya. Bagi mahasiswa yang berhalangan baik karena sakit atau punya jadwal masuk diperkenankan izin dengan membeli surat izin.
  •  
  • Apabila tiba hari libur kuliah (libur semester), kegiatan rumah cerdas biasanya diisi dengan kursus intensif berupa belajar baca kitab kuning yang dipandu oleh salah satu anggota JQK. Sebagai selingan, di waktu yang lain diisi dengan salat dhuha berjamaah dilanjutkan dengan hataman al-Qur’an. Dalam pengembangan literasi, mahasiswa diasah dengan diwajibkan membuat puisi dan resensi film yang diperlombakan.  

MUHADLARAH SISWA DAN MAHASISWA

MUHADLARAH SISWA DAN MAHASISWA

  • Nama Muhadlarah diambil dari bahasa Arab, artinya kuliah, penyampaian materi atau pidato. Muhadlarah adalah bentuk konkret dalam melatih kemampuan orasi dan public speaking santri PPA. Latee II yang intinya meliputi pidato empat bahasa, yaitu pidato bahasa arab, bahasa inggris,  bahasa Indonesia, dan bahasa Madura. Hal ini juga bertujuan untuk melatih mental dan kreatifitas mahasiswa di depan umum. Selain pidato sebagai inti, ada pementasan lain seperti syarhil, drama, teater maupun latar. Di luar itu, pengurus DPPI membebaskan santri untuk berkreasi menampilkan hal-hal yang menarik dan bermanfaat, baik yang bersifat keterampilan seperti dekorasi dan tata panggung maupun bersifat penampilan seperti stand up comedy, tari samman serta lainnya.
  •  
  • Muhadlarah siswa dibedakan dari muhadlarah mahasiswa. Muhadlarah siswa sifatnya diwajibkan per-blok dengan tema yang bebas ditentukan dan kemauan yang dimufakati oleh warga blok. Dilaksanakan di musalla Latee II, acara ini rutin dilaksanakan setiap hari jumat mulai pukul 08.00 sampai 12.00. Dari sepuluh blok yang ada di Latee II, blok yang pertama tampil adalah hasil undian dari pengurus DPPI. Begitupun yang tampil kedua, ketiga dan seterusnya.
  •  
  • Sedangkan muhadlarah mahasiswa diformat dan dibagi menjadi beberapa kelompok dengan diketuai oleh satu mahasiswa yang ditunjuk oleh pengurus DPPI. Tema muhadlarah  mahasiswa ditentukan oleh DPPI yang berarti membatasi penampilan maupun isi pidato harus sinkron dengan tema tersebut. Muhadlarah mahasiswa dilaksanakan pada malam hari dua kali setiap minggu, yaitu pada malam senin dan malam kamis selepas sekolah diniyah.
  •  
  • Baik muhadlarah siswa maupun siswa, pengurus DPPI menjadikannya perlombaan untuk menambah rasa kompetitif dan semangat bagi santri PPA. Latee II dalam bersaing dan mempertunjukkan yang terbaik baik kemampuan personal maupun soliditas dan kekompakan kelompok/blok. Hal ini ditunjukkan dengan adanya juri yang memberi nilai setiap penampilan muhadlarah siswa/mahasiswa yang terdiri dari ketua pengurus pesantren dan wakilnya. Di akhir periode, tepatnya pada malam penutupan aktifitas dibagikan hadiah bagi tiap kategori pidato dan penampilan sebagai apresiasi.