Koperasi Jaya (Kopja)

Koperasi Jaya (Kopja)

  • Dalam rangka menambah pemasukan PPA. Latee II khususnya dan menunjang kebutuhan santri Latee II pada umumnya, dibuatlah lokalisasi untuk koperasi pesantren. Dengan lebar dan luas bilik yang relatif sempit dan ala kadarnya, koperasi jaya berupaya melengkapi berbagai kebutuhan santri mulai dari peralatan mandi, alat-alat sekolah, peralatan makan, aksesoris perempuan, beberapa snack serta aneka kebutuhan lainnya. Meski masih jauh dari lengkap, koperasi Jaya berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi santri PPA. Latee II.
  •  
  • Di sisi lain, koperasi jaya juga menerima kerjasama dari alumni atau tetangga yang ingin menjual produknya di pesantren. Hal tersebut dengan catatan sesuai prosedur yang telah ditentukan pesantren, yaitu meminta izin kepada pengasuh, lalu melapor kepada ketua pengurus, baru kemudian boleh memajang barangnya setelah menghubungi pengurus koperasi dengan sistem bagi hasil sebagai syaratnya. Omzet yang dihasilkan koperasi cukup membantu keuangan di Latee II. Pada setiap akhir bulan koperasi jaya rutin menyetor uang ke bendahara PPA. Latee II minimal 2 juta perbulan.

Rias Manten

Rias Manten

  • Pernikahan adalah salah satu syari’at yang sangat dianjurkan oleh agama Islam dan memiliki serangkaian ritual yang ‘sakral’ dalam seluruh prosesnya. Oleh karena itu, pengasuh PPA. Latee II sangat mewanti-wanti santri yang akan melalui serangkaian proses tersebut serta acara-acara yang akan digelar di dalamnya hendaknya tetap dalam bingkai syariat Islam. Salah satu imbauan pengasuh adalah pakaian yang dikenakan tidak vulgar dan menutup aurat. Untuk itu, PPA. Latee II menyediakan paket busana manten dan make up semacam wedding organizer (WO) tetapi tidak dengan dekorasi panggung maupun kursi manten. Jadilah rias manten ini salah satu usaha PPA. Latee II yang menambah pemasukan terhadap kas pesantren.
  •  
  • Santri PPA. Latee II sendiri, alumni maupun masyarakat secara umum yang berminat dipersilakan memakai jasa rias manten di PPA. Latee II. Apalagi jasa rias manten ini didukung oleh adanya sumber daya perias ahli yang memang hasil kaderisasi secara turun-temurun di Latee II. Selain itu, paket make up, paket melati, dan berbagai opsi dan pilihan baju pengantin bervariasi dan mengkuti trend sudah dilengkapi dan diperbarui dari tahun ke tahun. Jadi pelanggan bisa menyesuaikan pilihan dengan selera masing- masing. Biaya sewa rias manten PPA. Latee II terhitung murah dan terjangkau,  Berikut rinciannya:
  • – Make up wajah: Rp. 150.000
  • – Sepaket baju pasutri; gaun lama – Rp. 250. 000, gaun baru – Rp. 350. 000
  • – Make up lengkap dengan gaun dan melati: gaun lama- Rp. 650.000, gaun baru- Rp. 800.000
  • – Ganti baju pasutri: Rp. 200.000
  • – Ganti make up: Rp. 150.000
  • – Melati pasutri: Rp. 250.000 – Rp. 300.000
  •  
  • Di akhir periode, hasil rias manten mendapat omzet yang besar, namun tidak semua hasil disetorkan kepada bendahara. Jumlah setoran juga tergantung banyaknya pelanggan,  artinya bersifat kondisional, jika dalam satu periode hanya sedikit pelanggan atau tidak ada sama sekali maka tidak ada penyetoran uang dalam periode itu. Omzet minimal rias manten mulai 4 sampai 6 juta.

eL_De Collection

eL_De Collection

  • Lembaga LDC selain berstatus sebagai lembaga, ciri khas lain yang paling menonjol adalah memproduksi berbagai macam produk handmade yang dipasarkan tidak hanya di Annuqayah tetapi juga kepada masyarakat secara umum. Biasanya, pihak LDC akan bekerjasama dengan beberapa wali santri dan alumni sebagai distributor dan menyepakati bagi hasilnya. Selain itu, pemasukan LDC dihasilkan dari order dan pemesanan produk LDC yang diminati pelanggan baik secara individu ataupun dalam kuantitas yang banyak.   Meski tidak banyak dan tidak sebesar pemasukan dari kopja, tetapi omzet dari penjualan produk LDC cukup membantu menambah kas Latee II. Produk yang dipasarkan didominasi oleh aksesoris perempuan seperti bros dkk., souvenir, buket, hantaran, peso, gantungan, tuspin, aneka rajutan dan sulaman, dan lainnya. Meki omzet LDC di akhir tahun cukup banyak, namun tidak semua disetokan ke bendahara pesantren karena akan dibelanjakan kembali untuk membeli bahan-bahan mentah aksesoris yang diperlukan. Paling biasa LDC menyetorkan hasil kurang lebih 2 juta pada setiap akhir periode.