Trend dan Miss Attitude Bermasker

  • Cobalah tengok kembali setahun silam, atribut apa yang sekiranya jika tanpa atribut tersebut rasanya ada sesuatu yang kurang.? Mungkin yang suka gaul merasa kurang rating gaulnya jika tidak memakai kaos distro merek kenamaan. Mungkin ibu-ibu hijabers merasa tak sah bepergian menjenguk sanak saudara atau sekedar kumpul arisan bila tidak mengikuti tren busana muslim artis kekinian.
  •  
  • Santriwan/santriwati gimana? Entahlah. Mungkin yang berubah ya warna pakaian yang selama ini dipakai. Semakin memudar warnanya (hehe!). Mau ganti gaya, gaya yang bagaimana? Meniru tren kekinian, ya nggak ada artis yang postingan Instagramnya pakai sarung merek tertentu, kan? Ada, ketika Ramadan tiba atau seminggu sebelum hari raya. Tapi ya, itu pembahasan bab lain.
  •  
  • Untuk sementara kita kesampingkan dulu tren-tren di atas. Sebab saat ini, ada satu tren yang bahkan jadi pakem internasional: bermasker. Disebut tren, kurang cocok juga karena bermasker lebih pada keharusan di masa pandemik ini, macam pakaian seadanya menutupi badan. Disebut tidak trendy, kok juga nggak cocok. Karena selain menjadi kebutuhan primer, para pelaku usaha, influencer, bahkan menteri, merubah image masker dari yang sebelumnya hanya terkesan bernuansa medis menjadi sesuatu yang fashionable. Dari sebelumnya masker hanya dibuat dari bahan yang ‘itu-itu saja’, kini masker banyak dibuat dengan bahan kain katun, linen, lap dapur, bahkan sabut kelapa. Dari yang sebelumnya masker hanya bisa digunakan sekali pakai, kini masker bisa dipakai berulang-ulang.

“karena kepraktisan masker inilah banyak orang yang cenderung ‘tidak benar’ dalam memakainya, semisal masker tidak menutupi lubang hidung atau membiarkan daerah di atas dagu terbuka, sehingga memberi kans daerah mulut untuk lebih mudah dimasuki virus. Bahkan saking malasnya membuka masker, banyak orang yang membiarkan masker bertengger dan menempel dibawah dagu.”

  • Namun dibalik ekonomis dan praktisnya masker non-medis (baca: sekali pakai), ada beberapa efek samping yang ditimbulkan belakangan ini. Efek samping ini bukan disebabkan oleh masker itu sendiri, melainkan oleh individu pemakai masing-masing. Pertama, karena bisa dipakai berkali-kali, maka higienitas masker harus dijaga. Bagi orang yang tidak mau repot secuil pun (baca: malas), mungkin masker jenis kain ini akan bernasib sama dengan masker medis sekali pakai. Iya, sekali beli masker kain, tidak dicuci hingga tak layak pakai. Dan ujung-ujungnya, karena harga masker tersebut relatif murah, maka berakhirlah karir masker lusuh, bau, dkk. tersebut, digantikan oleh masker baru yang masih kinyis-kinyis.
  •  
  • Kedua, karena kepraktisan masker inilah banyak orang yang cenderung ‘tidak benar’ dalam memakainya, semisal masker tidak menutupi lubang hidung atau membiarkan daerah di atas dagu terbuka, sehingga memberi kans daerah mulut untuk lebih mudah dimasuki virus. Bahkan saking malasnya membuka masker, banyak orang yang membiarkan masker bertengger dan menempel dibawah dagu. Apa dikata, jika daerah tersebut tengaah digelayuti virus, bisa dipastikan masker tersebut tak lagi berfungsi sebagai pelindung, melainkan pengangkut virus.
  •  
  • Ya… terlepas dari segala efek samping tidak mengenakkan itu, setidaknya keberadaan masker kain jauh lebih worth it daripada harus membeli masker medis sekali pakai, yang konon pernah mahal pada masanya karena ditimbun oleh seller-seller kurang hati. Pun tren bermasker ini, meski unuk saat ini masih diabaikan sebagian orang, suatu saat akan menjadi budaya yang mewarnai kronik beberapa tahun dekat ke depan. Setidaknya untuk saat ini saja, kita mempunyai tren yang berfaedah, patut disyukuri. Maka mari kita sambut tren bermasker ini sebagai langkah fundamen untuk menyelamatkan diri serta orang-orang di sekitar kita. Save humans. Stay healthy.
  •  
  • WalLaahu A’lam
  •  
  •    ADRIE RIDHA MAULANA
  •    Konten Kreator 
Trend dan Miss Attitude Bermasker